ARTICLE AD BOX
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Prof Dr Ida Bagus Raka Suardana SE MM menuturkan, RI khususnya Bali memiliki ketergantungan tinggi terhadap ekspor ke AS. Hal ini dapat dilihat dari statistik ekspor/impor Provinsi Bali yang dicatat BPS.
“Kebijakan ini akan berdampak signifikan terhadap sektor usaha dan industri ekspor di Bali,” ungkap Prof Raka Suardana kepada NusaBali.com, Kamis (3/4/2025).
BPS Provinsi Bali mencatat AS sebagai negara tujuan utama bagi eksportir Bali. Data ekspor/impor Januari 2025 menunjukkan ekspor Bali ke Negeri Paman Sam mencapai 16,84 juta dolar AS. AS menjadi pasar ekspor terbesar Bali yang disusul Tiongkok, Australia, Prancis, dan Jerman.
Ekspor Bali ke AS meningkat 16,19 persen pada Januari 2025 dibanding Desember 2024 di tengah penurunan nilai ekspor Bali sebesar minus 5,74 persen di periode tersebut. Barang ekspor Bali didominasi komoditas bahari seperti ikan, krustasea, dan moluska.
“Kenaikan tarif yang lebih tinggi dapat berakibat pada meningkatnya harga jual produk di pasar AS, yang pada akhirnya berpotensi menurunkan daya saing dibandingkan produk dari negara lain yang dikenakan tarif lebih rendah,” beber profesor kelahiran Mataram, NTB ini.
Kata Prof Raka Suardana, penurunan daya saing barang ekspor dari Indonesia, khususnya Bali, di AS akan turut menurunkan permintaan pasar terhadap barang asal tanah air. Pasar di AS bakal mencari barang sejenis yang harganya lebih kompetitif yang bisa didapat dari negara yang dikenakan tarif lebih rendah.
Dari 25 negara/wilayah yang tarif impornya diumumkan Trump, Kamis pagi waktu RI, Malaysia dan Singapura menjadi dua negara di Asia Tenggara yang dikenakan tarif impor lebih rendah dari RI. Masing-masing negara tetangga RI tersebut dikenakan tarif impor sebesar 24 persen dan 10 persen.
Prof Raka Suardana menilai, kebijakan tarif impor di bawah Presiden Trump ini merupakan langkah proteksionisme. Trump ingin melindungi industri dalam negerinya dan sebagai langkah memangkas defisit neraca perdagangan dengan negara/wilayah yang dikenakan tarif impor.
“Selain itu, faktor geopolitik dan perubahan strategi perdagangan AS terhadap negara berkembang juga dapat menjadi alasan utama di balik kebijakan ini, termasuk kemungkinan karena Indonesia menjadi anggota BRICS,” imbuh Prof Raka Suardana.
Menyikapi situasi ini, Prof Raka Suardana berpendapat bahwa diplomasi dan kebijakan luar negeri RI menjadi kunci untuk mendapat perlakuan tarif yang lebih kompetitif. Di sisi lain, sektor usaha dan industri sendiri harus memanfaatkan tantangan ini menjadi celah peluang baru.
Eksportir Bali bisa mendiversifikasi pasar ekspor ke negara lain, membuka pasar baru di negara yang memiliki kebijakan tarif impor lebih rendah. Sehingga, ekspor Bali tidak lagi terlalu mengandalkan AS sebagai negara tujuan ekspor utama.
Namun, pasar AS juga tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Prof Raka Suardana berpendapat, peningkatan kualitas dan inovasi adalah kunci untuk menjaga produk dari Bali tetap diminati konsumen AS meskipun harganya melambung karena menghadapi tantangan tarif yang lebih tinggi.
“Dengan strategi ini, diharapkan ekspor Indonesia, khususnya dari Bali, dapat tetap tumbuh meskipun menghadapi hambatan kebijakan perdagangan AS,” tandas Prof Raka Suardana. *rat
“Kebijakan ini akan berdampak signifikan terhadap sektor usaha dan industri ekspor di Bali,” ungkap Prof Raka Suardana kepada NusaBali.com, Kamis (3/4/2025).
BPS Provinsi Bali mencatat AS sebagai negara tujuan utama bagi eksportir Bali. Data ekspor/impor Januari 2025 menunjukkan ekspor Bali ke Negeri Paman Sam mencapai 16,84 juta dolar AS. AS menjadi pasar ekspor terbesar Bali yang disusul Tiongkok, Australia, Prancis, dan Jerman.
Ekspor Bali ke AS meningkat 16,19 persen pada Januari 2025 dibanding Desember 2024 di tengah penurunan nilai ekspor Bali sebesar minus 5,74 persen di periode tersebut. Barang ekspor Bali didominasi komoditas bahari seperti ikan, krustasea, dan moluska.
“Kenaikan tarif yang lebih tinggi dapat berakibat pada meningkatnya harga jual produk di pasar AS, yang pada akhirnya berpotensi menurunkan daya saing dibandingkan produk dari negara lain yang dikenakan tarif lebih rendah,” beber profesor kelahiran Mataram, NTB ini.
Kata Prof Raka Suardana, penurunan daya saing barang ekspor dari Indonesia, khususnya Bali, di AS akan turut menurunkan permintaan pasar terhadap barang asal tanah air. Pasar di AS bakal mencari barang sejenis yang harganya lebih kompetitif yang bisa didapat dari negara yang dikenakan tarif lebih rendah.
Dari 25 negara/wilayah yang tarif impornya diumumkan Trump, Kamis pagi waktu RI, Malaysia dan Singapura menjadi dua negara di Asia Tenggara yang dikenakan tarif impor lebih rendah dari RI. Masing-masing negara tetangga RI tersebut dikenakan tarif impor sebesar 24 persen dan 10 persen.
Prof Raka Suardana menilai, kebijakan tarif impor di bawah Presiden Trump ini merupakan langkah proteksionisme. Trump ingin melindungi industri dalam negerinya dan sebagai langkah memangkas defisit neraca perdagangan dengan negara/wilayah yang dikenakan tarif impor.
“Selain itu, faktor geopolitik dan perubahan strategi perdagangan AS terhadap negara berkembang juga dapat menjadi alasan utama di balik kebijakan ini, termasuk kemungkinan karena Indonesia menjadi anggota BRICS,” imbuh Prof Raka Suardana.
Menyikapi situasi ini, Prof Raka Suardana berpendapat bahwa diplomasi dan kebijakan luar negeri RI menjadi kunci untuk mendapat perlakuan tarif yang lebih kompetitif. Di sisi lain, sektor usaha dan industri sendiri harus memanfaatkan tantangan ini menjadi celah peluang baru.
Eksportir Bali bisa mendiversifikasi pasar ekspor ke negara lain, membuka pasar baru di negara yang memiliki kebijakan tarif impor lebih rendah. Sehingga, ekspor Bali tidak lagi terlalu mengandalkan AS sebagai negara tujuan ekspor utama.
Namun, pasar AS juga tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Prof Raka Suardana berpendapat, peningkatan kualitas dan inovasi adalah kunci untuk menjaga produk dari Bali tetap diminati konsumen AS meskipun harganya melambung karena menghadapi tantangan tarif yang lebih tinggi.
“Dengan strategi ini, diharapkan ekspor Indonesia, khususnya dari Bali, dapat tetap tumbuh meskipun menghadapi hambatan kebijakan perdagangan AS,” tandas Prof Raka Suardana. *rat